Giovanni Villani (pelafalan dalam bahasa Italia: [dʒoˈvanni vilˈlaːni]; kira-kira 1276 atau 1280 – 1348) adalah bankir sekaligus pejabat, diplomat, dan penulis tawarikh Italia asal Firenze yang menyusun Nuova Cronica, pustaka sejarah Firenze. Hal yang membedakan karyanya dari rekan-rekan sezamannya di Eropa pada Akhir Abad Pertengahan adalah minat maupun penjabaran Villani mengenai data ekonomi, informasi statistik, serta tinjauan politik dan psikologi.[1] Meskipun demikian, menurut sejarawan Kenneth R. Bartlett, berbeda dari para penerusnya pada era Renaisans, "penumpuan pada unsur-unsur seperti inayah ilahi dalam karya tulisnya membuat Villani terhubung erat dengan tradisi penulisan tawarikh Italia khas Abad Pertengahan."[2] Dengan tema-tema tersirat yang berulang kali dimunculkan kembali melalui uraian peristiwa-peristiwa penting dalam Nuova Cronica, Villani menonjolkan tiga asumsi mengenai kaitan dosa dan akhlak dengan peristiwa-peristiwa sejarah, yakni asumsi bahwa perbuatan berlebih-lebihan akan mendatangkan malapetaka, bahwa kebenaran tak henti-hentinya bertarung melawan kebatilan, dan bahwa kejadian-kejadian dipengaruhi secara langsung oleh kehendak Allah.[3]

Giovanni Villani
Arca Giovanni Villani di Loggia del Mercato Nuovo
LahirKira-kira tahun 1276 atau 1280
di Firenze
MeninggalTahun 1348
di Firenze
PekerjaanBankir, pejabat, diplomat, penulis tawarikh

Mulanya Villani adalah negarawan terkemuka di Firenze, tetapi kemudian hari reputasinya tercemar dan sempat mendekam di penjara akibat kebangkrutan perusahaan dagang dan perbankan yang mempekerjakannya. Keinginan untuk menulis Nuova Cronica terbersit dalam benak Villani sesudah menghadiri perayaan yubileum di Roma pada tahun 1300, sehingga berkesempatan merenungi sejarah kota itu yang dianggap gemilang. Dalam Nuova Cronica, kejadian-kejadian bersejarah ia rangkum tahun demi tahun mengikuti format narasi linier tanpa kecuali. Ia menyajikan perincian-perincian mengenai banyak kejadian bersejarah di kota Firenze maupun di daerah Toskana, misalnya proyek-proyek pembangunan, bencana banjir, kebakaran, kelaparan, dan wabah penyakit.[4][5][6] Pada tahun 1348, ketika sedang menuliskan uraian tentang besarnya jumlah korban jiwa yang direnggut wabah Maut Hitam, Villani wafat akibat penyakit yang sama.[7] Penulisan Nuova Cronica diteruskan oleh adik dan kemenakannya, Matteo Villani dan Filippo Villani. Nuova Cronica telah menuai pujian maupun kritik dari para sejarawan modern. Kritik lebih banyak ditujukan terhadap penitikberatan Villani pada tuntunan adikodrati atas kejadian-kejadian, demikian pula gaya penyusunannya, maupun pengagungannya terhadap lembaga kepausan dan Firenze.[8]

Riwayat hidup dan perjalanan karier

 
Lukisan karya Giotto di Bondone di Basilika Santa Croce, Firenze, tepatnya di dalam kapel para bankir Peruzzi. Villani sangat mengagumi karya-karya Giotto.[9]

Giovanni Villani lahir di Firenze pada tahun 1276 atau 1280.[10][11] Ia berasal dari kalangan saudagar, masyarakat golongan menengah di Firenze. Ayahnya bernama Villano di Stoldi di Bellincione, anggota keluarga saudagar lama dari golongan Arti Maggiori (serikat-serikat usaha besar) yang sangat disegani.[12][13] Sejak tahun 1300, Villani bergabung dengan Arte di Calimala (serikat usaha pengolahan akhir kain wol) di Firenze, dan bertugas sebagai salah satu dari delapan orang anggota dewan mercanzia (otoritas dunia usaha).[7] Pada tahun yang sama, ia berkunjung ke Roma dalam rangka menghadiri perayaan yubileum. Sesudah mengagumi monumen-monumen kuno yang terkenal di kota Roma, dan menginsafi kehebatan tokoh-tokoh ternama dalam perjalanan sejarah kota itu, terbitlah niatnya untuk menulis Nuova Cronica (Tawarikh Baru), sebuah catatan sejarah yang menyeluruh mengenai Firenze dari tahun ke tahun dalam format narasi linier.[2] Pada tahun-tahun permulaan abad ke-14, ia banyak menimba wawasan politik dari perjalanan dinas keliling Italia, Swiss, Prancis, dan Flandria yang ia lakukan untuk kepentingan bank keluarga Peruzzi, perusahaan tempat ia menjadi pemegang saham dari tahun 1300 sampai tahun 1308.[7][14] Untuk perjalanan dinas ke luar negeri selaku komisioner perusahaan keluarga Peruzzi, Villani menerima gaji secara berkala, di luar dari dividen yang ia terima selaku pemegang saham.[15] Selembar surat perjanjian serah terima tertanggal 15 Mei 1306 mengabadikan kesepakatan utang-piutang di antara dua pihak, yakni Giovanni Villani, yang bertindak atas nama perusahaan keluarga Peruzzi, selaku pihak pemberi pinjaman, dan Tommaso Fini, yang bertindak atas nama perusahaan keluarga Gallerani di Siena, selaku pihak penerima pinjaman. Surat ini merupakan salah satu di antara kontrak-kontrak serah terima (cambium) pertama yang menyebut-nyebut keberadaan kota Brugge di Flandria.[16] Pada tahun 1322, Giovanni Villani dan adiknya, Matteo, memindahkan sebagian besar kegiatan usaha mereka ke perusahaan keluarga Buonaccorsi, tempat Villani menjadi direktur-bersama pada tahun 1324.[7] Perusahaan keluarga Buonaccorsi bergerak di bidang usaha perbankan maupun jual-beli komoditas, dan giat melebarkan sayap ke seluruh Italia, Prancis, Flandria, Inggris, maupun tempat-tempat lain di Mediterania.[7]

Villani pulang dari perjalanan dinasnya pada tahun 1307, kemudian berumah tangga dan mulai menjajaki karier sebagai politikus di kota Firenze. Ia terpilih menjadi salah seorang priore (anggota dewan pemerintah) Republik Firenze pada tahun 1316 dan 1317. Pada waktu yang sama, ia turut terlibat dalam perumusan dan pelaksanaan taktik-taktik diplomasi yang menghasilkan kesepakatan damai dengan Pisa dan Lucca.[11] Sejak menjabat sebagai kepala percetakan uang pada tahun 1316, Villani mengumpulkan catatan-catatan lama lembaga itu dan menyusun daftar seluruh uang logam yang pernah dicetak di Firenze.[11] Pada tahun 1321, ia sekali lagi terpilih menjadi priore, dan diserahi tugas untuk menginspeksi pekerjaan pembangunan kembali tembok kota Firenze pada tahun 1324.[11] Ia ikut bertempur bersama angkatan bersenjata Firenze melawan Castruccio Castracani, penguasa Lucca, dan hadir di Pertempuran Altopascio ketika angkatan bersenjata Firenze mengalami kekalahan.[17]

Pada tahun 1328, daerah Toskana dilanda bencana kelaparan. Villani diangkat pemerintah komune (persekutuan warga) Firenze untuk menjabat sebagai kepala urusan logistik dari tahun 1329 sampai tahun 1330 demi menjauhkan Firenze dari dampak-dampak terburuk bencana kelaparan. Untuk memitigasi tingkat keparahan bencana dan meredam ketidakpuasan masyarakat, gandum secepat mungkin diimpor dari Sisilia melalui Talamone, 60.000 keping fiorino d'oro (florin emas) dikeluarkan pemerintah komune Firenze dari kas kota untuk mendanai usaha penanggulangan bencana, dan semua tungku pemanggang roti di kota Firenze direkuisisi pemerintah agar roti yang dihasilkan dapat dijual dengan harga terjangkau kepada warga miskin yang lapar dan merusuh.[18]

 
Villani adalah kepala pelaksana pengerjaan sepasang daun pintu perunggu rancangan Andrea Pisano untuk bangunan Baptisterium Firenze

Villani kembali dipercaya mengemban tugas diplomasi pada tahun 1329. Kali ini ia diutus ke Bologna, untuk menemui Kardinal Bertrand du Pouget.[7] Dari tahun 1330 sampai tahun 1331, ia menjadi kepala pelaksana pengerjaan sepasang daun pintu perunggu rancangan Andrea Pisano untuk gedung baptisterium.[7][11] Pada waktu yang sama, ia menjabat sebagai konsul serikat usahanya, Arte di Calimala, dan mengawasi pekerjaan pembangunan campanile Badia Fiorentina.[19] Ia juga diberangkatkan bersama beberapa orang lain selaku sandera-jaminan ke Ferrara sebagai bukti niat baik Firenze untuk melunasi utang, dan tinggal kota itu selama beberapa bulan pada tahun 1341.[20]

Villani kerap mengungkapkan pandangan optimis dalam karya tulisnya, tetapi kebiasaan ini berubah semasa rezim Gautier VI, despot yang diundang dan diberi signoria (wewenang memerintah) oleh kaum saudagar Firenze.[21] Bahkan, sesudah ditimpa kesulitan keuangan dan kehancuran karier, menyaksikan kegagalan Firenze di kancah internasional, turut mengalami serangkaian bencana alam, dan melihat Maut Hitam berjangkit di Eropa, Villani mulai yakin bahwa akhir zaman dan hari penghakiman terakhir sudah di ambang pintu.[22] Kebangkrutan perusahaan keluarga Buonaccorsi menyebabkan Villani dipidana dan dipenjarakan pada tahun 1346, karena ia adalah rekan utama perusahaan tersebut.[23][24] Usaha-usaha perbankan lain juga gulung tikar, misalnya usaha perbankan keluarga Peruzzi yang bangkrut pada tahun 1343, dan Compagnia dei Bardi yang bangkrut pada tahun 1346 (kedua perusahaan ini menjalin kerjasama operasi pada tahun 1336). Villani memperkirakan perusahaan keluarga Peruzzi sudah merugi 600.000 keping florin dan perusahaan keluarga Bardi sudah merugi sekitar 900.000 keping florin sebelum akhirnya gulung tikar.[25] Menurut Villani, kerugian disebabkan oleh terlalu besarnya pinjaman yang mereka berikan kepada Raja Inggris, Edward III, sementara sang raja tak kunjung mengembalikan pinjamannya. Meskipun demikian, sejarawan Edwin S. Hunt berpendapat bahwa kedua perusahaan tersebut sesungguhnya tidak memiliki sumber-sumber daya yang memungkinkan pemberian pinjaman sebesar itu. Jumlah pinjaman hampir dapat dipastikan jauh lebih kecil, dan bukan alasan utama di balik kebangkrutan mereka.[26] Bank Bardi dan bank Peruzzi hanyalah dua dari sekian banyak bank Eropa yang mengutangi Raja Edward III. Sekalipun seluruh rentenir dan investor kecil di Firenze dikumpulkan menjadi satu, dana yang mereka miliki masih belum mencukupi jumlah pinjaman yang menurut Villani diberikan bank Peruzzi dan bank Bardi kepada Raja Inggris. Menurut Hunt, ia hanya menemukan bukti bahwa anggota-anggota terkemuka keluarga Bardi dan keluarga-keluarga pengusaha lainnya di Firenze mengutangi Raja Edward sebesar 63.000 keping florin pada tahun 1348.[27] Jumlah 400.000 keping florin saja, yang menurut Villani dipinjamkan perusahaan keluarga Peruzzi kepada Raja Edward III, bahkan sudah menyamai perkiraan jumlah keseluruhan gaji 30.000 karyawan industri sandang di Firenze pada tahun 1338 dalam Nuova Cronica.[28] Hunt juga berpendapat bahwa kebangkrutan bank-bank Firenze tampaknya berkaitan erat dengan kebijakan Firenze untuk memperluas wilayah kekuasaannya di daerah Toskana. Kebijakan ini diambil dengan harapan penguasaan wilayah baru akan lebih menjamin keamanan hubungan dagang Firenze dengan Eropa Utara, tetapi Firenze justru menghabiskan banyak uang untuk mendanai perang dan hanya menuai sedikit keuntungan.[29] Selain angka-angka perkiraan kerugian perusahaan keluarga Peruzzi dan Bardi yang patut dipertanyakan, diketahui pula bahwa beberapa uraian terkait kebangkrutan perusahaan keluarga Buonaccorsi dalam Nuova Cronica sengaja disusun sedemikian rupa agar menutup-nutupi perilaku curang perusahaan itu. Dalam bukunya, sejarawan Edward Miller mengemukakan bahwa "inilah salah satu kesimpulan yang paling meyakinkan" dari isi buku Giovanni Villani e la Compagnia dei Buonaccorsi (terbit tahun 1971) yang ditulis sejarawan Michele Luzzati.[30]

 
Lambang kebesaran Arte di Calimala. Villani adalah anggota serikat usaha ini.

Reputasi Villani dan perusahaan keluarga Buonaccorsi mulai tercemar sejak tahun 1331, ketika Villani diperkarakan ke meja hijau (dan dinyatakan tidak bersalah) atas kasus lelang jabatan dalam proyek pembangunan sirkuit tembok yang ketiga di sekeliling kota Firenze.[7] Anugerah hak dari Adipati Kalabria, Carlo d'Angiò, kepada perusahaan keluarga Buonaccorsi untuk mengutip pajak di tiga dari enam distrik Firenze semakin memperburuk reputasi Villani di mata rekan-rekan sekotanya.[7] Pada awal bulan Juni 1342, rekan-rekan dan agen-agen perusahaan keluarga Buonaccorsi tiba-tiba saja lari meninggalkan Firenze, Avignon, dan Napoli, sesudah tuntutan pailit diajukan oleh para kreditur, yakni hampir semua orang yang menyimpan uang di bank Buonaccorsi.[31] Seperti para bankir dan perusahaan-perusahaan lain di Firenze yang juga menghadapai masalah kepailitan ketika itu, pada bulan September 1342, mereka mendukung keputusan mengundang Gautier VI, Comte de Brienne, untuk menjadi Signor Firenze yang baru. Gautier IV menangguhkan segala tindakan hukum terhadap perusahaan keluarga Buonaccorsi dan rekan-rekan usahanya selama hampir satu tahun.[31]

Meskipun demikian, kasus hukum yang melibatkan perusahaan keluarga Buonaccorsi kembali dibuka dan disidangkan pada bulan Oktober 1343, sesudah Gautier IV digulingkan rakyat Firenze.[31] Tidak jelas berapa lama Villani mendekam di dalam penjara setelah diputuskan bersalah atas pelanggaran perilaku saat krisis ekonomi pada tahun 1346, yang jelas ia dipenjarakan di Carcere delle Stinche (Rumah Tahanan Stinche).[32] Sesudah tumbangnya rezim Gautier IV dan signoria golongan ningrat yang menggantikannya, golongan novi cives (pendatang baru) alias keluarga-keluarga pengusaha baru (beberapa di antaranya berasal dari serikat-serikat usaha kecil) tampil mengemuka pada akhir bulan September 1343 dan membentuk pemerintahan baru yang membuka lebih banyak peluang bagi orang-orang mereka untuk menjadi pejabat.[33] Villani maupun penulis-penulis tawarikh lainnya memandang rendah golongan udik bukan ningrat yang mendadak berkuasa itu, dan menganggap mereka sebagai orang-orang ketiban rezeki nomplok yang tidak cakap menjalankan pemerintahan.[13][34] Dari segi ketatanegaraan, posisi golongan Villani menjadi lemah. Sebagaimana yang diutarakan oleh sejarawan John M. Najemy, keberadaan dua puluh satu serikat usaha yang mewakili dua puluh satu suara dengan kedudukan setara di dalam pemerintahan berarti oligarki para petinggi serikat-serikat usaha besar "sudah kalah jumlah".[35] Meskipun demikian, pada tahun-tahun era 1350-an, pandangan umum terhadap golongan novi cives sudah banyak berubah, karena Matteo Villani, adik kandung Giovanni Villani, memuji semangat juang yang mendorong mereka untuk bersatu melalui koalisi dengan para saudagar dan pengrajin demi memberangus oligarki.[34][36] Selaku pendukung berat kemerdekaan Gereja, Villani mengecam pemerintahan baru bentukan novi cives karena pemerintahan tersebut menentang banyak pengecualian hukum yang dinikmati Gereja.[37] Meskipun demikian, ia tetap merasa bangga menjadi warga Firenze, karena seisi kota itu, termasuk golongan novi cives, bersatu padu memberontak melawan rezim Gautier VI. Bagi Villani , dosa kezaliman Gautier VI sudah cukup memadai untuk dijadikan alasan pembenaran terhadap tindak kekerasan yang digunakan warga Firenze demi menggulingkannya.[38]

Nuova Cronica

 
Gambar Pertempuran Crécy tahun 1346 dalam Tawarikh Froissart. Villani meriwayatkan pertempuran ini maupun kejadian-kejadian lain secara akurat dalam Nuova Cronica.[39]

Nuova Cronica adalah tawarikh dalam bahasa Italia yang ditulis dari perspektif kalangan politikus Firenze pada saat kota itu mulai beranjak makmur dan berkuasa. Sebelum Nuova Cronica ditulis, hanya ada segelintir karya tulis mengenai sejarah Firenze, itu pun bukan karya tulis sejarah yang murni, karena sebagian isinya adalah legenda-legenda lama. Selain itu, sedikit sekali yang dapat diketahui dari kejadian-kejadian yang berlangsung sebelum kemangkatan Grancontessa Matilde pada tahun 1115.[40] Chronica de Origine Civitatis Florentiae (Tawarikh Asal-Usul Kota Firenze) ditulis sebelum tahun 1231, tetapi sedikit sekali isi karya tulis ini yang dapat dibandingkan dengan isi Nuova Cronica. Sejarawan pertengahan abad ke-20, Nicolai Rubinstein, mengemukakan bahwa legenda-legenda dalam Chronica de Origine Civitatis Florentiae "dipilih sesuka hati penulisnya yang memiliki taraf pendidikan dan kemampuan bersikap kritis jauh di bawah standar zamannya."[41] Sebaliknya, Villani ia anggap menyajikan "ekspresi yang matang" dari sejarah Firenze.[41] Meskipun demikian, Villani masih mengandalkan Chronica de Origine Civitatis Florentiae sebagai sumber utama materi sejarah bahari Firenze dalam Nuova Cronica.[42]

Dalam bab ke-36 dari jilid ke-8 Nuova Cronica,[42] Villani mengemukakan bahwa gagasan untuk menulis Nuova Cronica terbersit dalam benaknya saat menghadiri perayaan yubileum tahun 1300 di Roma,[10] sesudah Paus Bonifasius VIII mengumumkan pelimpahan indulgensi besar-besaran untuk menghormati kelahiran Kristus. Villani mengungkapkannya sebagai berikut:

Sewaktu berziarah di kota suci Roma dan menyaksikan kemegahan monumen-monumen kunonya, serta membaca kisah-kisah kehebatan bangsa Romawi yang ditulis Vergilius, Sallustius, Lucanus, Livius, Valerius, Orosius, dan pujangga-pujangga besar lainnya di bidang sejarah... Merekalah yang membuat saya tergugah untuk berkarya, meskipun saya hanya seorang cantrik yang tidak layak melaksanakan pekerjaan semacam itu. Namun mengingat kenyataan bahwa kota kita Firenze, anak gadis sekaligus binaan Roma, sedang berjuang mewujudkan niat-niat besar, ketika Roma justru sedang terpuruk, saya kira sudah sepatutnya di dalam tawarikh ini dibeberkan asal-usul kota Firenze sejauh yang dapat saya gali, dan diriwayatkan kelanjutan perkembangannya secara lebih panjang lebar, serta disajikan ikhtisar kejadian-kejadian yang berlangsung di seluruh dunia sepanjang berkenan kepada Allah, yang dari pada-Nya jua saya harapkan pertolongan, ketimbang mengandalkan kemampuan sendiri yang tidak seberapa, dalam menunaikan ikhtiar tersebut. Hatta pada tahun 1300, bakda ziarah ke Roma, mulailah saya menulis buku ini dengan menyeru Nama Allah dan Yohanes Pembaptis yang terberkati, demi kehormatan kota kita Firenze.[2]

Dalam Nuova Cronica, Villani mengemukakan pandangannya tentang Firenze sebagai "anak gadis sekaligus binaan Roma." Ia juga mengungkapkan bahwa kemerosotan Roma dan kebangkitan Firenze menjadi kota besar merupakan faktor-faktor yang mendorongnya untuk menulis sejarah kota kelahirannya itu secara terperinci.[42] Untuk mencitrakan Firenze bagai kota yang memiliki sejarah gemilang, Villani mengemukakan pula bahwa Firenze terlahir untuk kedua kalinya ketika dibangun kembali oleh Karel Agung (memerintah selaku Kaisar Romawi Suci dari tahun 800 sampai tahun 814). Keterangan ini tidak terdapat dalam Chronica de origine civitatis Florentina.[43] Sejarawan J. K. Hyde mengemukakan dalam tulisannya bahwa gagasan mengenai Firenze sebagai anak gadis yang dilahirkan Roma akan menumbuhkan kesadaran mengenai takdir Firenze ke depannya, sementara keterangan mengenai pendirian kota Firenze untuk kedua kalinya oleh Karel Agung dapat dijadikan konteks sejarah yang melatari persekutuan Firenze dengan negara Prancis.[44] Menurut Villani, kemerosotan Roma adalah akibat dari skisma di tubuh Gereja dan pemberontakan terhadap lembaga kepausan, sementara naiknya Otto I ke atas takhta Kekaisaran Romawi Suci (memerintah dari tahun 962 sampai tahun 973) menghadirkan kesempatan bagi Firenze untuk bangkit melawan pihak-pihak yang memusuhi kedaulatan Sri Paus, misalnya dengan menaklukkan Fiesole.[45] Villani yakin bahwa Republik Firenze telah mengalami pukulan besar dalam perjuangannya menggapai kegemilangan ketika kaum Guelfi (kubu pendukung Sri Paus) dikalahkan kaum Ghibellini (kubu pendukung Kaisar Romawi Suci) dalam Pertempuran Montaperti pada tahun 1260.[46] Meskipun demikian, Villani menegaskan bahwa Firenze sudah sungguh-sungguh aman dan makmur pada tahun 1293, terbukti dari kenyataan bahwa pintu-pintu gerbangnya tidak lagi dikunci pada malam hari dan pajak-pajak tidak langsung seperti bea masuk pintu gerbang (lumrah pada masa perang) tidak lagi dipungut.[47] Sejarawan Felicity Ratté mengemukakan bahwa kesahihan keterangan tersebut perlu diperiksa secara saksama mengingat adanya statuta Firenze tahun 1290 yang menetapkan orang-orang yang bertugas mengunci pintu-pintu gerbang.[47] Villani juga mementahkan pernyataannya sendiri dengan menulis tentang serangan malam hari yang menimpa Firenze pada tahun 1323, yang jelas-jelas menunjukkan fakta bahwa pintu-pintu gerbang kota itu dikunci pada malam hari.[48]

 
Villani menulis bahwa kapal-kapal jenis koga berukuran kecil dengan tiang tunggal, layar persegi, dan kemudi linggi buritan dikenal orang Genova dan orang Venesia pada tahun 1304 dari bajak-bajak laut Bayonne.[49]

Nuova Cronica mulai ditulis pada tahun 1300 atau tak lama sesudahnya. Karya tulis ini dibagi menjadi 12 jilid buku. Enam jilid pertama memuat catatan sejarah bahari Firenze yang kebanyakan hanya legenda, mulai dari kisah Menara Babel sampai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1264.[50][51] Enam jilid selanjutnya memuat catatan sejarah dari tahun 1264 sampai masa hidup Villani, yakni tahun 1346.[50] Dalam Nuova Cronica, peristiwa-peristiwa bersejarah ia uraikan kembali secara ringkas dan berurutan dari tahun ke tahun. Cara penyusunan seperti inilah yang membuat Villani menuai kritik selama bertahun-tahun, lantaran karya tulis yang disusun dalan bentuk episode tidak memiliki tema pemersatu maupun sudut pandang tertentu.[17] Nuova Cronica ia tulis dalam bahasa sehari-hari alih-alih dalam bahasa Latin, bahasa kalangan terpelajar.[52] Uraiannya ia sisipi episode-episode bersejarah yang langsung ia tulis begitu ia memperoleh keterangannya, kadang-kadang disertai sedikit ulasan.[53] Kebiasaan ini kerap menimbulkan ketidakakuratan sejarah dalam Nuova Cronica,[53] terutama dalam biografi tokoh-tokoh sejarah maupun tokoh-tokoh sezamannya di luar Firenze (termasuk kepala-kepala monarki terkenal).[54]

Sekalipun banyak melakukan kekeliruan, Villani kerap menyajikan pandangan orang-dalam ketika menuliskan uraian-uraiannya. Kelebihan ini adalah hasil dari perjalanan dinasnya ke mana-mana serta keleluasaannya dalam mengakses dokumen-dokumen resmi maupun dokumen-dokumen privat.[7] Sebagai contoh, Kelly De Vries mengemukakan bahwa Villani menyajikan salah satu catatan yang paling akurat mengenai Pertempuran Crécy dalam Perang Seratus Tahun, antara lain keterangan bahwa prajurit-prajurit pemanah ditempatkan pada posisi yang tidak aman di belakang barisan prajurit pejalan kaki Inggris dan Wales, bukan di posisi sayap seperti yang diuraikan penulis-penulis lain.[55] Bilamana menguraikan kejadian-kejadian yang berlangsung di dalam kota Firenze, Villani tidak lupa menyebutkan nama jalan, alun-alun, jembatan, keluarga, dan orang-orang yang bersangkutan, seakan-akan sidang pembacanya juga mengenal seluk-beluk kota dan warga Firenze sebaik dirinya.[38]

Karya tulis Villani mengandung nilai data statistik yang berharga bagi para sejarawan.[53] Sebagai contoh, ia mencatat bahwa di Firenze ada 80 buah bank, 146 buah toko roti, 80 orang anggota asosiasi hakim kota, 600 orang notaris, 60 orang tabib dan juru bedah, 100 buah toko dan lapak rempah-rempah, 8.000 sampai 10.000 orang anak yang masuk sekolah dasar setiap tahun, 550 sampai 600 siswa yang belajar berbagai mata pelajaran Skolastika di 4 sekolah berbeda, 13.200 gantang gandum yang dikonsumsi setiap minggu oleh warga kota, dan 70.000 sampai 80.000 helai bahan sandang yang diproduksi di bengkel-bengkel Arte della Lana (serikat usaha produksi kain wol) setiap tahun dengan nilai keseluruhan mencapai 1.200.000 keping florin emas.[56][57]

Villani termasuk dalam golongan Guelfi,[7] tetapi isi tawarikhnya lebih mementingkan pencarian unsur-unsur yang bermanfaat dan yang benar ketimbang menonjolkan pandangan-pandangan golongan. Bertolak belakang dengan kebijakan golongan Guelfi, ia lebih menyukai bentuk pemerintahan republik daripada monarki,[7] dan mengagung-agungkan filsuf Brunetto Latini sebagai "mahaguru dan pelopor usaha peningkatan kualitas diri warga Firenze, karena membuat mereka bijak berperi dan tahu caranya membimbing dan memerintah republik kita seturut ilmu politik."[58][59] Meskipun demikian, Villani mengakui dalam tulisannya bahwa bentuk pemerintahan republik melahirkan pertentangan antargolongan, bahwa penguasa monarki budiman seperti Roberto d'Angiò, Raja Napoli, kadang-kadang dibutuhkan untuk menegakkan ketertiban, dan bahwa bentuk pemerintahan republik dapat saja menjadi tirani jika hanya mewakili satu golongan masyarakat (misalnya golongan ningrat, golongan saudagar, atau golongan pengrajin).[7] Dalam uraiannya tentang proyek pembangunan gedung Katedral Firenze, Villani menyebut seniman Giotto di Bondone sebagai perancang menara lonceng yang baru, dan menjulukinya "empu seni lukis yang paling mumpuni pada zamannya."[9] Nuova Cronica juga adalah karya tulis pertama yang diketahui memuat biografi Dante Alighieri (1265–1321),[11][60] penulis Divina Commedia, yang digambarkan oleh Villani sebagai pribadi yang tinggi hati, suka memandang rendah orang lain, dan pendiam.[61] Dalam versi revisi Nuova Cronica tahun 1322, Villani meringkas biografi Dante dan mengurangi jumlah kutipan yang terambil dari Divina Commedia.[51] Tindakan ini dijelaskan Richard H. Lansing dan Teodolinda Barolini dalam tulisan mereka, bahwasanya "jelas-jelas dua dasawarsa sesudah sang penyair [Dante] wafat, seorang penulis konservatif [Villani] yang memiliki ikatan kuat dengan negara Firenze masih saja merasa wajib menjaga jarak dari si kritikus yang paling lantang bersuara itu atas dasar gengsi negara."[51]

 
Gambar Raja Prancis, Philippe Sang Rupawan, dari abad ke-16, salah seorang dari sekian banyak korban nasib buruk yang, menurut Villani, kehilangan kekuasaan akibat dosa dan kemunduran akhlak, alih-alih karena kebetulan sedang sial atau karena menjadi korban dari keadaan
 
Paus Bonifasius VIII, karya Giotto di Bondone
 
Salah satu gambar peristiwa pada predella Corpus Domini karya Paolo Uccello (sekitar tahun 1465–1468), berlatar rumah seorang tukang gadai Yahudi. Darah yang digambarkan mengalir dari periuk dan menyusup keluar lewat sela-sela gawang pintu berasal dari hosti yang dimasak si tukang gadai.

Sejarawan Louis Green mengemukakan dalam tulisannya bahwa Nuova Cronica ditulis dengan tiga asumsi tentang akhlak,[3] yang memengaruhi tata susunannya, karena "[mengarahkan] kejadian-kejadian sedemikian rupa sehingga membentuk suatu pola berulang yang berarti."[3] Ketiga asumsi umum yang dimaksud adalah asumsi bahwa perbuatan berlebih-lebihan akan mendatangkan malapetaka, bahwa sejarah ditentukan oleh pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, dan bahwa ada kaitan langsung antara kejadian-kejadian yang berlangsung di alam kodrati dengan kehendak adikodrati Allah yang turut campur tangan dalam kejadian-kejadian tersebut.[3] Sebagai contoh, Villani meriwayatkan akhir nasib Conte Ugolini di Pisa, yang dilengserkan ketika sedang jaya-jayanya, dan akhirnya mati kelaparan bersama putra-putranya.[62] Louis Green mengemukakan dalam tulisannya bahwa kisah ini diriwayatkan dalam Nuova Cronica mirip hikayat Yunani Kuno tentang Polikrates dan cincinnya yang terdapat dalam karya tulis Herodotos.[63] Meskipun demikian, "kisah peringatan" Villani ia anggap sudah keluar dari tema Yunani Klasik mengenai hartawan sombong dan tinggi hati yang jatuh miskin dalam kaitan dengan kepercayaan bangsa Yunani tentang perlunya memelihara keselarasan kekuatan-kekuatan penentu nasib yang tak terelakkan. Louis Green membahasakannya dengan "nasib baik yang berlimpah harus diimbangi nestapa yang setimpal."[63] Ajaran agama Kristen Abad Pertengahan yang dianutnya membuat Villani menduga bahwa nasib malang Conte Ugolini adalah ganjaran dosa dan perbuatan menghujat Allah.[63] Ia menegaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan tahana bergengsi akan terperosok ke dalam kecongkakan, kecongkakan karena bertahana akan menuntun mereka kedalam dosa, dan dosa akan mendatangkan keterpurukan bertahap.[64] Villani menulis sebagai berikut:

... tampaknya hal ini menimpa kekuasaan maupun status orang-orang terkemuka di dunia. Saat sedang jaya-jayanya, datanglah keterpurukan dan kehancuran, tentunya berkat inayah Yang Mahaadil, sebagai ganjaran atas dosa-dosa, supaya jangan lagi ada orang yang sia-sia bersandar pada nasib baik.[63]

Bagi Villani, teori bahwa dosa dan akhlak berkaitan langsung dengan nasib dan kemujuran sangat cocok dengan akhir nasib wangsa Capet di Prancis.[64] Wangsa Capet adalah wangsa yang terkenal sebagai johan pahlawan Gereja dan sekutu lembaga kepausan.[64] Meskipun demikian, Villani menghubung-hubungkan pendurhakaan Raja Philippe Sang Rupawan terhadap Paus Bonifasius VIII serta penyitaan harta kekayaan Kesatria Kenisah dengan kemalangan-kemalangan yang kemudian hari menimpa wangsa Capet, misalnya tewasnya Philippe Sang Rupawan akibat kecelakaan ketika sedang berburu, perbuatan zina istri-istri ketiga putranya, kematian para ahli warisnya, bahkan kekalahan Prancis pada permulaan Perang Seratus Tahun.[64] Louis Green menunjukkan bahwa dalam Nouva Cronica terdapat dua kuasa duniawi utama yang merupakan kekecualian atau kebal terhadap teori bahwa kemunduran akhlak menggiring orang menuju keruntuhan, yakni Firenze dan lembaga kepausan.[8] Sebagaimana yang diungkapkan Louis Green, kepentingan-kepentingan dua kuasa duniawi ini merupakan "sumbu kemudi dari skema tafsir sejarah Villani."[8]

Villani juga meriwayatkan kejadian-kejadian lain yang ia yakini dapat dijelaskan dari sudut pandang adikodrati selain inayah ilahi. Ia menulis banyak kisah tentang nubuat orang-orang suci yang kemudian hari menjadi kenyataan, misalnya nubuat Paus Klemens IV mengenai hasil akhir Pertempuran Tagliacozzo.[65] Villani percaya bahwa kejadian-kejadian tertentu benar-benar merupakan pertanda dari peristiwa yang akan datang. Sebagai contoh, kejadian tewasnya singa hadiah Paus Bonifasius VIII kepada Firenze, konon akibat ulah seekor keledai,[65] ia tafsirkan sebagai pertanda penyiksaan dan kematian mendadak yang menimpa Paus Bonifasius VIII tak lama sesudah berperang melawan Raja Philippe Sang Rupawan di Anagni. Villani menulis sebagai berikut:

Bilamana satwa jinak sudah menewaskan rajanya satwa liar, tibalah zaman Gereja tercerai-berai.[65]

Villani juga percaya pada ramalan bintang. Perubahan-perubahan yang tampak di langit ia yakini sebagai isyarat pasang-surut politik, pertanda kematian penguasa atau paus, serta alamat datangnya bencana alam.[66] Meskipun demikian, ia mengakui bahwa pergerakan benda-benda langit tidak selalu mempratakdirkan tindakan manusia dan tidak lebih berkuasa daripada rencana agung Allah.[66]

Marilyn Aronberg Lavin mengemukakan bahwa Villani mungkin sekali sedang menjalankan tugasnya selaku wakil perusahaan Peruzzi di Flandria ketika mendengar cerita tentang seorang Yahudi Prancis yang coba-coba menista sekeping hosti (yang didapat dari perayaan Ekaristi) pada tahun 1290. Konon hosti tersebut tak henti-hentinya memancarkan darah ketika ia tusuk dengan pisau, lalu berubah menjadi sekerat daging saat ia rebus dalam air.[67] Dalam cerita aslinya yang terdapat dalam karya tulis rahib Ghent, Jean de Thilrode, yang disusun pada tahun 1294, si Yahudi dipaksa memeluk agama Kristen, tetapi cerita versi Villani mengikuti versi Tawarikh Saint-Denis (1285–1328) yang mengisahkan bahwa si Yahudi tewas dibakar hidup-hidup.[67] Nuova Cronica adalah karya tulis pertama di Italia yang memuat legenda ini. Menurut Marilyn Aronberg Lavin, "laporan Villani menyertakan perincian-perincian yang menjadi cikal bakal kemunculan cabang Italia dari cerita ini".[68] Santo Antoninus, Uskup Agung Firenze, mengulangi cerita versi Villani dalam Chronicon Partibus Tribus Distincta ab Initio Mundi ad MCCCLX (Tawarikh Tiga Bagian Terpisah Mulai dari Penciptaan Dunia Sampai Tahun 1360) yang ditulisnya, sementara Nuova Cronica edisi berilustrasi memuat sebuah gambar mengenai kisah ini yang kemudian hari muncul dalam salah satu lukisan karya Paolo Uccello.[69]

Kematian Villani dan perampungan Nuova Cronica

 
Peta penyebaran pes bubo di Eropa. Proses penyebaran wabah penyakit ini diuraikan Giovanno secara terperinci. Ia menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa akibat Maut Hitam di Firenze tidak sebesar jumlah korban jiwa di kota-kota dan negeri-negeri lain, seperti Turki, Pistoia, Prato, Bologna, Romagna, Prancis, dll.[70]

Sewaktu merebaknya wabah penyakit pes bubo, Villani menulis sebagai berikut:

"Padri yang mendengarkan pengakuan dosa para pesakit maupun orang-orang yang merawat mereka pada umumnya ikut tertular, oleh karena itu para korban ditelantarkan sehingga tidak dapat mengaku dosa, menerima sakramen, obat, dan perawatan... Banyak negeri dan kota menjadi sunyi ditinggal penghuninya. Wabah ini berlangsung sampai pada ________."[70][71]

Bagian setelah "sampai pada" sengaja dikosongkan dan rencananya akan diisi dengan tanggal berakhirnya wabah, tetapi Villani tidak berkesempatan mengisinya, karena ia juga tewas akibat wabah tersebut.[71][72] Jenazahnya dikuburkan di dalam gedung Basilika Santissima Annunziata, Firenze.[7]

Nuova Cronica dipandang sebagai karya tulis penting pada zamannya, sampai-sampai adik dan kemenakan Villani merasa perlu merampungkan penulisannya.[7][50] Tidak banyak yang dapat diketahui mengenai Matteo Villani, adik Giovanni Villani, selain bahwa ia kawin dua kali dan melanjutkan penulisan Nuova Cronica sampai wafat akibat wabah pada tahun 1363.[2] Filippo Villani, putra Matteo,[50] berkiprah pada paruh akhir abad ke-14 dan merampungkan penulisan Nuova Cronica pada tahun 1364.[2] Bagian yang ditulis Filippo mencakup riwayat hidup sejumlah besar seniman dan musikus Firenze, termasuk Giotto di Bondone dan Francesco Landini. Tulisan-tulisan Filippo disetujui Kanselir Firenze, Coluccio Salutati, yang menyunting beberapa bagian dan menambahkan ulasannya.[73] Sejarawan Firenze pada abad ke-15, Domenico di Leonardo Buoninsegni, juga menyajikan ringkasan Nuova Cronica dalam dua bab pertama karya tulisnya, Istoria Fiorentina.[74]

Pada abad ke-16, lebih dari satu edisi Nuova Cronica tersedia dalam format cetak.[75] Ada banyak pula edisi naskah tulis tangan beriluminasi, antara lain satu naskah dari Venesia yang dikerjakan Bartholomeo Zanetti Casterzagense pada tahun 1537 dan satu naskah dari Firenze yang dikerjakan Lorenzo Torrentino pada tahun 1554.[75]

Warisan sejarah dan kritik

 
Lukisan Dante Alighieri karya Giotto di kapel istana Bargello, Firenze. Nuova Cronica membantu para ahli modern dalam meneliti lebih lanjut tokoh-tokoh yang sezaman dengan Giovanni Villani, misalnya Dante Alighieri.

Sejarawan J.K. Hyde berpendapat bahwa Nuova Cronica hasil karya Giovanni Villani merupakan contoh tradisi tulis dalam bahasa sehari-hari yang berkembang di Firenze, serta disukai masyarakat pada zamannya sebagai sebuah narasi yang "enak dibaca, penuh dengan liku-liku perjalanan hidup manusia, dan kadang-kadang dibumbui lelucon-lelucon ala novelet."[44] J.K. Hyde juga melihat kritik-kritik Villani terhadap politik komune di Firenze sebagai pelopor tren ekspresi pribadi di kalangan para penulis tawarikh terkemudian, yang bertentangan dengan kaidah resmi dalam penulisan tawarikh.[76] Nuova Cronica juga kaya akan catatan sejarah. Nilai terbesar Nuova Cronica bagi para sejarawan modern adalah uraian-uraiannya mengenai orang-orang yang dikenal, data yang diketahui, dan kejadian-kejadian yang dialami Villani semasa hidupnya.[40] Sejarawan Mark Phillips mengemukakan bahwa semua catatan Firenze terkemudian mengenai rezim tirani Gautier VI (termasuk yang dihasilkan Leonardo Bruni dan Niccolò Machiavelli) menggunakan Nuova Cronica sebagai sumber utama.[38] Tulisan Villani mengenai Dante Alighieri dan masa hidupnya menyajikan tinjauan mendalam terhadap karya, nalar, dan jiwa Dante.[77] Cetak ulang edisi-edisi baru dari karya tulis Villani pada permulaan abad ke-20 menyajikan materi bagi kajian-kajian mengenai Dante yang kembali mengemuka.[78] Meskipun demikian, uraian-uraian Villani tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi berabad-abad sebelum masa hidupnya bercampur aduk dengan catatan-catatan sejarah tradisional yang tidak akurat, legenda-legenda rakyat, dan berbagai selentingan.[40]

Terkait masa hidupnya sendiri, Villani memberi para sejarawan modern perincian-perincian berharga mengenai kebiasaan-kebiasaan hidup dan bermasyarakat di Firenze, misalnya tentang meningkatnya kecenderungan dan kegilaan kaum hartawan Firenze untuk membangun vila-vila besar jauh di luar kota.[79] Meskipun demikian, sejarawan awal abad ke-20, Philip Wicksteed, mengemukakan bahwa "bilamana menulis tentang masa hidupnya sendiri, dan tentang kejadian-kejadian yang berkaitan langsung dengan Firenze, ia adalah saksi mata yang dapat dipercaya, tetapi keakuratan sampai sekecil-kecilnya bukanlah kelebihannya, dan keterangannya tentang masa-masa yang sudah lama berlalu dan tempat-tempat yang sangat jauh sama sekali tidak andal."[40] Sebagai contoh, meskipun Nicolai Rubinstein mengakui bahwa tawarikh yang ditulis Villani jauh lebih matang dan maju daripada tawarikh-tawarikh sebelumnya, Villani tetap masih mengandalkan legenda dan selentingan dalam menulis tentang asal-usul kota-kota semisal Fiesole.[80] Sehubungan dengan estimasi Villani bahwa sepertiga populasi Antwerpen tewas akibat Bencana Kelaparan Besar 1315-1317, sejarawan awal abad ke-20, Henry S. Lucas, mengemukakan dalam tulisannya bahwa "data statistik tersebut tidak begitu dapat dipercaya, karena hanya sedikit lebih baik daripada terkaan belaka."[81] Louis Green menganggap Giovanni Villani hanya seorang penulis tawarikh dan bukan sejarawan yang sesungguhnya. Anggapan tersebut ia kemukakan sebagai berikut:

Dengan mencatat peristiwa-peristiwa sesuai urutan kejadiannya, tanpa berlagak menjadi sejarawan yang menyusun materi berdasarkan tema tertentu, ia tidak dapat menyajikan umpan balik berupa tafsir atas masa lampau bagi perubahan yang berlaku pada masa kini. Perhatian besar yang ia curahkan untuk membenarkan dan mengagung-agungkan Firenze juga tidak memungkinkannya untuk melihat bahwa kemujuran yang didapatkan kotanya adalah pengulangan dari pola kemerosotan yang sudah ia jabarkan dalam sejarah wangsa-wangsa besar pada zamannya.[22]

Louis Green menegaskan bahwa selain mengungkapkan cara pandang komunitas saudagar di Firenze pada masa penulisannya, Nuova Cronica juga menyajikan indikasi-indikasi penting tentang "bagaimana cara pandang itu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga keluar dari jalur yang berciri khas Abad Pertengahan dan beralih ke jalur yang merupakan cikal bakal cara-cara pandang zaman modern."[52] Dalam tulisannya, Louis Green mengemukakan bahwa Nuova Cronica adalah salah satu dari tiga jenis tawarikh buatan abad ke-14, yakni jenis tawarikh yang lebih merupakan suatu catatan sejarah menyeluruh.[52] Dua jenis lainnya adalah jenis tawarikh episode sejarah tertentu seperti catatan Dino Compagni tentang kaum Guelfi Putih dan kaum Guelfi Hitam, serta jenis tawarikh yang lebih domestik yang berfokus pada nasib dan kejadian-kejadian yang dialami satu keluarga tertentu seperti yang dihasilkan oleh Donato Velluti dan Giovanni Morelli.[82]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Bartlett (1992), 35–36.
  2. ^ a b c d e Bartlett (1992), 36.
  3. ^ a b c d Green (1967), 163.
  4. ^ Bartlett (1992), 35–40.
  5. ^ Kleinhenz (2004), 1102.
  6. ^ Benedictow (2004), 286.
  7. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Kleinhenz (2004), 1144.
  8. ^ a b c Green (1967), 165–166.
  9. ^ a b Bartlett (1992), 37.
  10. ^ a b Bartlett (1992), 35.
  11. ^ a b c d e f Vauchez dkk. (2000), 1517.
  12. ^ Kleinhenz (2004), 1147.
  13. ^ a b Baron (1960), 443.
  14. ^ "Villani, Giovanni." (2008). Dalam Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica Daring. Temu balik 14 Januari 2008.
  15. ^ De Roover (2007), 33.
  16. ^ De Roover (2007), 49.
  17. ^ a b Kleinhenz (2004), 1145.
  18. ^ Bartlett (1992), 39.
  19. ^ Franklin Toker (1976), 158, catatan kaki nomor 10.
  20. ^ Michele Luzzati, Villani, Giovanni, dalam: Lexikon des Mittelalters, jilid 8, kolom 1679.
  21. ^ Kleinhenz (2004), 1146.
  22. ^ a b Green (1967), 168.
  23. ^ Caesar (1989), 147–148.
  24. ^ Wolfgang (1960), 150.
  25. ^ Hunt (1990), 149 dan 151.
  26. ^ Hunt (1990), 149–150.
  27. ^ Hunt (1990), 155–157.
  28. ^ Hunt (1990), 157.
  29. ^ Hunt (1990), 160.
  30. ^ Miller dkk. (2002), 109, Catatan kaki nomor 10.
  31. ^ a b c Miller dkk. (2002), 109.
  32. ^ Wolfgang (1960), 149–150.
  33. ^ Becker (1962), 360.
  34. ^ a b Becker (1962), 360–361.
  35. ^ Najemy (1979), 63.
  36. ^ Baron (1960), 443–444.
  37. ^ Becker (1959), 64–65.
  38. ^ a b c Phillips (1979), 89.
  39. ^ De Vries (2006), 162, 173, 175.
  40. ^ a b c d Wicksteed (1906), xxxi.
  41. ^ a b Rubinstein (1942), 199.
  42. ^ a b c Rubinstein (1942), 214.
  43. ^ Rubinstein (1942), 215–216.
  44. ^ a b Hyde (1979), 124.
  45. ^ Rubinstein (1942), 217.
  46. ^ Olson (1997), 289
  47. ^ a b Ratté (1999), 148.
  48. ^ Ratté (1999), 153.
  49. ^ Kleinhenz (2004), 1031.
  50. ^ a b c d Caesar (1989), 148.
  51. ^ a b c Lansing dkk. (2000), 859.
  52. ^ a b c Green (1967), 161.
  53. ^ a b c Chisholm (1910), 903.
  54. ^ Wicksteed (1906), xxxi, xxxii, xxxiii.
  55. ^ De Vries (2006), 162.
  56. ^ Bartlett (1992), 41–42.
  57. ^ Lopez dkk. (2001), 72.
  58. ^ Hyde (1979), 122.
  59. ^ Becker (1964), 201.
  60. ^ Caesar (1989), xi.
  61. ^ Caesar (1989), 13, 457.
  62. ^ Green (1967), 163–164.
  63. ^ a b c d Green (1967), 164.
  64. ^ a b c d Green (1967), 165.
  65. ^ a b c Green (1967), 166.
  66. ^ a b Green (1967), 167.
  67. ^ a b Lavin (1967), 3–4.
  68. ^ Lavin (1967), 4.
  69. ^ Lavin (1967), 4–5.
  70. ^ a b Bartlett (1992), 38.
  71. ^ a b Benedictow (2004), 69.
  72. ^ Bartlett (1992), 36, 38.
  73. ^ Selby (1958), 243.
  74. ^ Molho (1970), 259.
  75. ^ a b Rudolph (2006), 66.
  76. ^ Hyde (1979), 124–125.
  77. ^ Wicksteed (1906), xxv–xlvi
  78. ^ Caesar (1989), 58–59.
  79. ^ Goldthwaite (1980), 13, 22.
  80. ^ Rubinstein (1942), 209.
  81. ^ Lucas (1930), 366.
  82. ^ Green (1967), 161–162.

Daftar pustaka

  •   Balzani, Ugo (1911). "Villani, Giovanni". Dalam Chisholm, Hugh. Encyclopædia Britannica. 28 (edisi ke-11). Cambridge University Press. hlm. 74,75. 
  • Baron, Hans. "The Social Background of Political Liberty in the Early Italian Renaissance," Comparative Studies in Society and History (Jilid 2, Nomor 4, 1960): hlmn. 440–451.
  • Bartlett, Kenneth R. (1992). The Civilization of the Italian Renaissance. Toronto: D.C. Heath and Company. ISBN 0-669-20900-7 (Paperback).
  • Becker, Marvin B. "Florentine Politics and the Diffusion of Heresy in the Trecento: A Socioeconomic Inquiry," Speculum (Jilid 34, Nomor 1, 1959): hlmn. 60–75.
  • Becker, Marvin B. "Florentine Popular Government (1343–1348)," Proceedings of the American Philosophical Society (Jilid 106, Nomor 4, 1962): hlmn. 360–382.
  • Becker, Marvin B. "Notes from the Florentine Archives," Renaissance News (Jilid 17, Nomor 3, 1964): hlmn. 201–206.
  • Benedictow, Ole Jørgen (2004). The Black Death, 1346–1353: The Complete History. Woodbridge: The Boydell Press. ISBN 0-85115-943-5.
  • Caesar, Michael. (1989). Dante, the Critical Heritage, 1314(?)-1870. London: Routledge. ISBN 0-415-02822-1.
  • Chisholm, Hugh. (1910). The Encyclopædia Britannica: A Dictionary of Arts, Sciences, Literature. Cambridge: Cambridge University Press.
  • De Roover, Raymond. (2007). Money, Banking, and Credit in Medieval Bruges: Italian Merchant-Bankers, Lombards, and Money-Changers, A Study in the Origins of Banking. Cambridge: The Medieval Academy of America.
  • De Vries, Kelly. (2006). Infantry Warfare in the Early Fourteenth Century: Discipline, Tactics, and Technology. Woodbridge: The Boydell Press. ISBN 978-0-85115-571-5.
  • Goldthwaite, Richard A. (1980). The Building of Renaissance Florence: An Economic and Social History. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-2342-0.
  • Green, Louis. "Historical Interpretation in Fourteenth-Century Florentine Chronicles," Journal of the History of Ideas (Jilid 28, Nomor 2, 1967): hlmn. 161–178.
  • Hunt, Edwin S. "A New Look at the Dealings of the Bardi and Peruzzi with Edward III," The Journal of Economic History (Jilid 50, Nomor 1, 1990): hlmn. 149–162.
  • Hyde, J. K. "Some Uses of Literacy in Venice and Florence in the Thirteenth and Fourteenth Centuries," Transactions of the Royal Historical Society (seri ke-5, Jilid 29, 1979): hlmn. 109–128.
  • Kleinhenz, Christopher. (2004). Medieval Italy: An Encyclopedia. New York: Routledge. ISBN 0-415-93929-1.
  • Lansing, Richard H. dan Teodolinda Barolini, Joan M. Ferrante, Amilcare A. Iannucci, Christopher Kleinhenz. (2000). The Dante Encyclopedia: An Encyclopedia. New York: Garland Publishing, Inc., anggota Taylor and Francis Group. ISBN 0-8153-1659-3.
  • Lavin, Marilyn Aronberg. "The Altar of Corpus Domini in Urbino: Paolo Uccello, Joos Van Ghent, Piero della Francesca," The Art Bulletin (Jilid 49, Nomor 2, Maret 1967): hlmn. 1–24.
  • Lopez, Robert S. dan Irving W. Raymond. (2001). Medieval Trade in the Mediterranean World. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-12356-6.
  • Lucas, Henry S. "The Great European Famine of 1315, 1316, and 1317," Speculum (Jilid 5, Nomor 4, 1930): hlmn. 343–377.
  • Miller, Edward (2002). Progress and Problems in Medieval England: Essays in Honour of Edward Miller. Disunting oleh Richard Britnell dan John Hatcher. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-52273-0.
  • Molho, Anthony. "Domenico di Leonardo Buoninsegni's Istoria Fiorentina," Renaissance Quarterly (Jilid 23, Nomor 3, 1970): hlmn. 256–266.
  • Najemy, John M. "Guild Republicanism in Trecento Florence: The Successes and Ultimate Failure of Corporate Politics," The American Historical Review (Jilid 84, Nomor 1, 1979): hlmn. 53–71.
  • Olson, Roberta J.M. "An Early Drawing by Luigi Sabatelli Rediscovered," Master Drawings (Jilid 35, Nomor 3, 1997): hlmn. 289–292.
  • Phillips, Mark. "Machiavelli, Guicciardini, and the Tradition of Vernacular Historiography in Florence," The American Historical Review (Jilid 84, Nomor 1, 1979): hlmn. 86–105.
  • Ratté, Felicity. "Architectural Invitations: Images of City Gates in Medieval Italian Painting," Gesta (Jilid 38, Nomor 2, 1999): hlmn. 142–153.
  • Rubinstein, Nicolai. "The Beginnings of Political Thought in Florence. A Study in Mediaeval Historiography," Journal of the Warburg and Courtauld Institutes (Jilid 5, 1942): hlmn. 198–227.
  • Rudolph, Julia. (2006). History and Nation. Danvers: Rosemont Printing & Publishing Corp; Cranbury: Associated University Presses. ISBN 978-0-8387-5640-9.
  • Selby, Talbot R. "Filippo Villani and his Vita of Guido Bonatti," Renaissance News (Jilid 11, Nomor 4, 1958): hlmn. 243–248.
  • Toker, Franklin. "A Baptistery below the Baptistery of Florence," The Art Bulletin (Jilid 58, Nomor 2, 1976): hlmn. 157–167.
  • Vauchez, André, Richard Barrie Dobson dan Michael Lapidge. (2000). Encyclopedia of the Middle Ages. Chicago: Fitzroy Dearborn Publishers. ISBN 1-57958-282-6.
  • Wicksteed, Philip H. (1906). Villani's Chronicle: Being Selections from the First Nine Books of the Croniche Fiorentine of Giovanni Villani. Diterjemahkan oleh Rose E. Selfe. London: Archibald Constable & Co. Ltd.
  • Wolfgang, Marvin E. "A Florentine Prison: Le Carceri delle Stinche," Studies in the Renaissance (Jilid 7, 1960): hlmn. 148–166.

Pranala luar